Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Latih Anak Berpikir Kritis, Ini 5 Kuncinya

Semua orang tua pasti ingin anak mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas. Yang penting untuk diingat, orang tua harus mulai melatih anak berpikir kritis sejak dini. Tidak terjadi dalam semalam, anak harus didukung oleh lingkungan yang membiasakannya berpikir kritis sedari kecil.

Tahukah Ayah dan Bunda, ada sejuta manfaat melatih anak berpikir kritis dan analitis. Dengan terbiasa berpikir kritis, anak dapat lebih mudah memahami konsep, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mampu menyelesaikan masalah, mengembangkan kemandirian, hingga terdorong untuk belajar hal-hal baru.

Terbiasa berpikir kritis juga akan sangat berguna bagi anak seiring mereka tumbuh dewasa. Nah, bagaimana sih cara melatih anak berpikir kritis sejak dini? Yuk, Ayah dan Bunda, kita cari tahu tipsnya!

  1. Tanya Pendapat Anak, Minta Ia Menjelaskan Sesuatu

Cara pertama untuk mendorong anak berpikir kritis adalah dengan sering menanyakan pendapatnya atau memintanya menjelaskan sesuatu. Tidak perlu tentang hal yang rumit, cukup hal-hal sederhana saja, namun dapat membiasakannya berbicara dan mengungkapkan pendapatnya.

Contoh sederhananya adalah dengan menanyakan pendapat anak tentang rencana liburan akhir pekan. Apa aktivitas yang bisa dilakukan oleh keluarga? Apakah di masa pandemi adalah waktu yang baik untuk bepergian ke luar rumah? Atau lebih baik berada di rumah saja?

Ayah dan Bunda juga bisa memintanya untuk menjelaskan sesuatu, seperti film yang baru saja ditontonnya. Minta ia untuk menceritakan kembali film yang baru dia tonton, bagaimana akhir cerita film tersebut, dan apa pelajaran yang bisa dipetik.

Meski terkesan sederhana, jika terbiasa dilakukan, anak akan mahir dalam mengutarakan pendapatnya serta menganalisis sesuatu, dimulai dari hal-hal kecil di sekitarnya.

  1. Tunjukkan Hal-Hal Baru

Selain mendorong anak berpikir kritis, Ayah dan Bunda juga bisa memperluas wawasan anak dengan sering menunjukkan dan mengajarkan hal-hal baru kepada mereka. Hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan memicu mereka untuk bertanya banyak hal.

Di periode emas, rasa ingin tahu anak sangat tinggi. Nah, ini adalah masa-masa yang harus dimanfaatkan Ayah dan Bunda dengan maksimal, yaitu dengan memenuhi rasa ingin tahu mereka.

Ajak mereka ke tempat-tempat baru, seperti ke pantai, berkemah, pergi ke museum, kebun binatang, atau tempat lainnya di mana mereka bisa belajar banyak hal-hal baru. Ayah dan Bunda juga bisa mengajaknya melakukan aktivitas baru, seperti mengajak bercocok tanam, memelihara hewan, hingga berolahraga.

Jangan lupa, dalam setiap kesempatan, Ayah dan Bunda juga harus ikut aktif memberikan penjelasan dan arahan sesuai usia anak, supaya setiap aktivitas dapat menambah pengetahuan mereka secara optimal.

  1. Memintanya untuk Mengevaluasi

Selanjutnya, Ayah dan Bunda juga bisa mendorong anak berpikir kritis dengan memintanya untuk mengevaluasi kegiatan dan aktivitas yang ia kerjakan.

Sebagai contoh, setelah anak selesai menggambar, minta ia untuk mengevaluasi apa yang kurang dari gambarnya dan apa yang bisa diperbaiki. Bunda juga bisa meminta anak mencicipi masakan Bunda dan memberikan penilaian apakah masakan Bunda sudah pas. Jika belum, minta dia untuk memberikan saran untuk masakan Bunda.

Dengan melatih anak untuk mengevaluasi, ia akan terbiasa untuk mencari akar masalah serta mampu mengembangkan diri.

  1. Dorong Anak Mencari Solusi

Setelah membiasakan anak mengevaluasi, Ayah dan Bunda juga bisa mendorong mereka untuk mencari solusi. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan anak berpikir kritis.

Dengan terbiasa mencari solusi, mereka berlatih untuk dapat memecahkan masalah. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memicu anak mencari solusi. Ayah dan Bunda bisa mulai dengan contoh kasus di kehidupan sehari-hari. Misalnya, tanyakan bagaimana agar mereka tidak terlambat ke sekolah? Anak bisa mencari solusi misalnya dengan tidak bangun kesiangan, tidak tidur terlalu malam, dan mempersiapkan kebutuhan sekolah sejak malam hari.

Selain solusi untuk masalah sehari-hari, ada beragam permainan yang bisa Ayah dan Bunda gunakan untuk memecahkan masalah. Misalnya, bermain puzzle, bongkar pasang, lego, dan masih banyak lagi.

  1. Bangun Diskusi Sehat, Jangan Menghakimi Anak atas Pendapatnya

Tips terakhir yang juga paling penting dalam melatih anak berpikir kritis adalah dengan membangun diskusi yang sehat. Setiap kali meminta pendapat anak atau memintanya menjelaskan sesuatu, jangan menghakimi mereka apalagi memarahinya. Biarkan mereka merasa bahwa pendapat mereka penting dan perbedaan pendapat adalah hal yang biasa.

Jika Ayah dan Bunda terkesan ‘membungkam’ anak, mereka akan cenderung tumbuh menjadi anak yang tertutup dan ragu dalam menyuarakan pendapat. Ini juga akan sangat berpengaruh terhadap karakter dan sifat mereka hingga mereka dewasa.

Itu dia tips-tips yang bisa dilakukan untuk melatih anak berpikir kritis. Nah, jika Ayah dan Bunda merasa kesulitan untuk mencari aktivitas dan sumber materinya, Ayah dan Bunda bisa berlangganan di tekakita. Di sini, Ayah dan Bunda bisa mendapatkan ratusan aktivitas online dan offline yang dapat mengasah kecerdasan dan menambah wawasan.

Dengan aktivitas yang variatif dan sesuai kurikulum TK/PAUD, tekakita mengajak anak untuk berlatih berpikir kritis, aktif, dan kreatif. Dengan tekakita, belajar sekarang bisa jadi seru! 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *